Jasa Mikroba dan Cacing

Posted: 12 April 2011 in Terkini

Lactobacilli. Foto: hubpages.com

Lactobacilli. Foto: hubpages.com

Kalau dalam kasus kesehatan ada masalah susu berbakteri sakazakii yang bisa menyebabkan radang selaput otak pada anak balita. Atau kasus cacingan pada sebagian masyarakat urban yang sanitasinya buruk dan kotor. Tetapi dalam kasus lingkungan Mikroba semacam bakteri jamur dan juga cacing bisa berkata lain.

Mikroba dan cacing mahluk yang sama-sama berjasa dalam proses penguraian sampah.
Tahukah anda bahwa mikroba –mahluk tak kasat mata– dan cacing sangat berjasa dalam proses perfermentasi, dalam pembuatan pupuk organic? Kedua jenis mahluk ini tak kasat mata, kecil, imut, mengelikan dan beberapa orang menilai menjijikan.

Cacing sudah sejak lama dikenal sebagai mahluk yang hidup di tanah/daratan  yang bertugas untuk menyuburkan tanah, begitu juga pada beberapa jenis microba atau bakteri yang baik berguna bagi manusia. Baik, dikonsumsi langsung seperti Lactobacilli (dalam susu bervermentasi), maupun untuk membantu proses Fermentasi atau peragian pada beberapa produk makanan.

Yang paling penting, jasa kedua mahluk ini sama-sama bisa mengurai sampah organik menjadi lebih bermanfaat. Sebut saja pupuk Bokashi, pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan teknologi EM4 (Effective Microorganisms 4). EM4 sendiri mengandung Azobacter sp., Lactobacillus sp., ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa.  EM4 ini sangat mudah didapatkan di tempat-tempat penjual pupuk-pupuk organik. Fungsi EM4 ini bertugas sebagai starter bersama-sama starter tambahan lainnya seperti dedak dan serbuk gergaji. Keduanya diolah pada media sampah organik yang akan dibuat pupuk organik.

Tetapi bukan itu saja, jika engan mencari starter EM4 yang sudah jadi, bisa juga membuat starter sendiri dan dapat diikokulasi dari material sederhana seperti kotoran hewan, jamur, spora, cacing ragi, acar, sake, miso, natto, anggur bahkan bir sepanjang material tersebut mengandung organisme yang mampu melakukan proses pengomposan. Dan bahan tambahan selain starter adalah jerami, rumput, tanaman kacangan, sekam, pupuk kandang atau serbuk gergaji. Namun bahan campuran starter yang paling baik dalam pembuatan bokashi adalah dedak karena mengandung zat gizi yang sangat baik untuk mikroorganisme.

Dalam proses pengomposan sampah rumah tangga, sampah dapur hanya memakan waktu 10-14 hari pupuk kompos sudah dapat di “panen”.

pupuk cacing

Pupuk cacing. Foto: Wikipedia

Begitu juga dengan kompos cacing atau biasa disebut vermicompost adalah pupuk yang berasal dari kotoran cacing (vermics). Pupuk ini dibuat dengan memelihara cacing dalam tumpukan sampah organik hingga cacing tersebut berkembang biak di dalamnya dan menguraikan sampah organik dan menghasilkan kotoran. Proses pembuatannya kompos jenis ini tidak berbeda dengan pembuatan kompos pada umumnya; yang membedakan hanya starternya yang berupa cacing.

Kompos cacing dapat menyuburkan tanaman karena cacing memiliki bentuk dan struktur yang mirip dengan tanah namun ukuran partikel-partikelnya lebih kecil dan lebih kaya akan bahan organik sehingga memiliki tingkat aerasi yang tinggi dan cocok untuk dijadikan media tanaman. Kompos cacing memiliki kandungan nutrisi yang hampir sama dengan bahan organik yang diurainya.

Spesies cacing yang umum digunakan dalam proses ini diataranya Eisenia foetida, Eisenia hortensis, dan Perionyx excavatus, namun cacing biasa (Lumbricus terestris) juga dapat digunakan.

Cacing untuk Kesehatan.

Lumbricus rubellus. Foto:http://www.ceklik.com

Lumbricus rubellus. Foto:http://www.ceklik.com

Dalam bidang kesehatan-pun rupanya orang dibuat terbelalak dengan kandungan protein dari cacing. Cacing sangat baik untuk di racik menjadi beberapa bentuk obat. Sebut saja cacing jenis Lumbricus rubellus (lebih dikenal dengan cacing eropa), Pheretima aspergillum (cacing gelang),  Selain mengandung Protein tinggi (58% hingga 78%) atau lebih tinggi dari protein daging dan telur, cacing tanah juga mengandung zat aktif berupa enzym, terdiri dari a. Enzym lumbrokinase (mengembalikan & menstabilkan fungsi darah).b. Enzym Peroksidase katalase (memperlambat penuaan) c. Enzym selulosa lignase (mengembalikan & menstabilkan fungsi pencernakan). d. Asam arakidonat (mempercepat pembentukkan sel-sel baru). e. αE tocoferol (mempertahankan elatisitas & keremajaan kulit). f. Taurine (mempercepat metabolisme lemak untuk menambah energi). g. Nutrisi : lemak tidak jenuh ganda, kalsium, fosfor, serat.

Sebagai makanan obat, seperti untuk penyakit Typus, Demam, Jantung dan stroke karena trombosis, Reumatik, Hipertensi, Wasir, Kencing manis, untuk kecantikkan kulit dan pertumbuhan rambut dll. Budidaya cacing banyak di dapatkan di daerah Lumajang dan Nganjuk  Jawa Timur. Beberapa ahli telah membuktikannya baik untuk kesehatan dan  baik dikonsumsi bukan lagi mitos belaka.

Rupanya didunia proses siklus kehidupan telah diatur sedemikian rupa. Peran mikroba seperti bakteri dan cacing yang kecil bentuknya tetapi besar manfaatnya yang bahkan tidak tampak dengan mata telanjang rupanya banyak berjasa bagi kehidupan. Permasalahannya sekarang bagaimana kita yang mau melakukan proses alam menuju kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan. Padahal alam telah memberi pelajaran kepada kita, akhirnya dikembalikan kepada pembaca — alam berkembang jadi guru. Itulah berkah alam tinggal kita saja mau memelihara  keanekaragaman hayati yang ada di sekitar kita. (berbagai sumber)

Mashuri Alif

Tulisan ini pernah diterbitkan dalam Majalah Serasi Edisi 02 – 2011 dengan judul “Mengurai Jasa Cacing dan Mikroba”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s