Menghadapi Teror, Rambo tak lagi berpihak pada Intifadah.

Posted: 11 Mei 2001 in Opini, Pustaka

Oleh : M. Mashuri Alif

Saya baca berulang-ulang membaca berita beberapa hari ini seperti tidak percaya. Gedung kembar World trade Center (WTC) salah satu kebanggaan perekonomian Amerika Serikat rubuh dalam hitungan menit. Disambut tak beberapa lama kemudian sebuah ledakan di pusat pertahanan Amerika Pentagon, Washington, luluh lantah, mengerikan.

Anehnya seluruh pembajak hanya mengunakan pisau dalam melakukan aksinya, untuk membajak pesawat Boing yang akhirnya dihujamkan kepusat perekonomian di New York dan Pertahanan Amerika Serikat (AS) di Washington tersebut. Sebuah ironi dari sebuah negara super power yang katanya paling kuat pertahanan udaranya. Sebuah negara yang punya peluru kendali berkepala nuklir harus tunduk oleh sebilah pisau.

George W Bush tentu gusar, diawal ucapan pengantarnya setelah serangkaian serangan teror, seakan tidak percaya dua gedung kebanggaan AS luluh lantah tinggal debu. Di tengah kemelut global dan krisis ekonomi dalam negeri. Rasionalitas dikepala sang kepala pemerintahan adikuasa tersebut seakan-akan hilang untuk sesaat. Ada orang yang tidak senang dengan kebebasan dan demokrasi -ala AS red.penulis- seperti yang dikutib berulang-ulang kali oleh media pers baik dalam negeri AS maupun di luar negeri pemerintahan Bush. Anehnya media sekaliber CNN berkali-kali pula mengkoreksi kesalahanya terhadap tuduhannya terhadap aktor-aktor dari Arab tersebut.

Saya teringat serangkaian teror serupa yang menimpa pemerintahan Presiden Abdurahman Wahid, lewat serangkaian teror peledakan beberapa rumah ibadah Nasrani tahun yang lalu di tengah-tengah hari besar keagamaan di Indonesia. Jika di Indonesia rakyat hanya bisa mengurut dada tanpa bisa berbuat apa-apa. Berbeda halnya yang terjadi di AS beberapa rumah ibadah agama menjadi pelampiasan kemarahan rakyat Amerika untuk sesaat. Bagi rakyat AS harus ada musuh yang di ciptakan. Dan musuh tersebut seakan-akan ditujukan kepada negara-negara Timur-Tengah, terutama yang gerakan fundamentalisnya sangat kuat, AS seakan lupa dengan slogan Hak Asasi Manusia yang selama ini dia dengungkan terutama terhadapat gerakan fundamentalis dibeberapa belahan bumi lainnya.

Pemerintahan AS terkenal sangat keras terhadap pemerintahan RRC, terhadap pengikut aliran Falunggong yang di musuhi pemerintahan Cina daratan tersebut. Begitu pula ketika masih berkecamuknya perang dingin di dunia. Bagaimana peran AS baik secara terang-terangan maupun secara sembunyi-sembunyi mendukung milisi Intifadah di Afganistan, dimana tempat musuh besarnya milyunar Osama bin Lade sekarang berada beserta kelompok extrimnya Al-Qeada bersembunyi. Perang dingin boleh usai tetapi musuh AS harus ada.

Pemerintahan pro-Soviet di Afganistan bisa hilang, Uni Soviet (setelah runtuh) boleh meninggalkan Afganistan. Dan Rambo boleh menang dalam sebuah pemutaran film actionnya yang “seakan-akan” menggambarkan militansi dari rakyat Afganistan tersebut. Film Rambo III yang ditujukan untuk mengenang kegigihan tentara intifadah seakan-akan hilang dalam ingatan rakyat Amerika, digantikan dengan persiapan-persiapan. Yang ditujukan untuk mengincar musuh besarnya di Afganistan tersebut.

Sekelompok “tikus” yang putus asa dalam menghadapi kemelut persaingan global harus dihadapi dengan serangkaian resolusi PBB yang dengan keras mendukung steatmen pemerintah AS yang akan menghantam seluruh negara yang “terbukti” menyembunyikan sarang “teroris” yang sulit untuk dibuktikan tersebut.

Beberapa dugaan ditujukan kepada negara-negara Timur tengah yang dalam perspektif ekonomi dekat pula hubungannya dengan pemerintahan Amerika. Mungkin Setelah Afganistan, mungkin bisa Pakistan, Libya, Irak atau Iran menyusul. Sang polisi dunia perlu musuh. Setelah Soviet runtuh mungkin musuh besar tersebut adalah para fundamentalis yang note banenya perlu di “kasihi.”

Demokrasi/Kebebasan versus Rasisme.
Peristiwa teror tersebut membuat seluruh otak di kepala kita seakan di kuras oleh pemberitaan-pemberitaan teror. Kapan pemikiran teror itu ada? Sebenarnya teror tersebut sudah ada sejak pemikiran modern itu lahir di dunia tepatnya jauh sebelum abad 20 di barat maupun timur. Eskalasinya saja yang berbeda dari tahun ke tahun di setiap negara. Teror atau Terorisme adalah sebuah gerakan terkoordinir yang biasanya berjumlah kecil, karena jika sudah besar tidak bisa dianggap teror. Maka gerakan Teror ini tujuannya adalah untuk mendapatkan simpati dan dukungan.

Tetapi anehnya mengapa gerakan teror itu baru mengemuka sekarang? Banyak tiori sosial yang di pakai untuk menjelaskan hal ini, dari mulai tiori Samuel Huntington dalam bukunya yang berjudul “The clash of civilization and remaking of the world order” (simon & Shcuster, 1996) yang dimuat dalam artikel “Foreign Policy” terbitan 1993. Yang menjelaskana akan terciptanya bentrokan peradapan yang akan mendominasi bentrokan global yang akan mendominasi politik global di masa depan. (Kompas, 13 Sep 2001).

Saya pribadi kurang tertarik dengan tesis Huntington tersebut. Huntington dalam tesisnya hanya melihat obyek dalam kacamata peradapan eropa, maka kesimpulannya konflik yang terjadi bias menjadi pertentangan barat yang beradap dengan timur yang tidak beradap.

Jauh-jauh hari Antonio Gramsci menganalisa lebih pada dampak ekonomi dan kemiskinan yang diciptakan dari faktor global tersebut. Dalam tesisnya Gramsci mengemukakan untuk menutupi kekurangan konsep tatanan dunia baru, maka perlu dibuat “aktor” atau musuh bersama. Konsep ini seakan lebih realistis jika kita melihat dari kondisi dunia dari tahun ke tahun atau abad keabad, teror itu ada ketika kemiskinan dan pemerataan ekonomi pincang, maka musuh itu harus tercipta.

Poin utama dalam kegagalan konsep Globalisasi adalah buruknya manajemen ekonomi dunia. Krisis ekonomi dunia terutama Amerika tidak bisa dipungkiri. Untuk itu beberapa waktu lalu bursa saham Nasdag Stock Market (tak jauh dari runtuhnya gedung WTC) melakukan kegiatan untuk menarik pembeli di AS. Kelesuan di Nasdeg bukan hanya setelah runtuhnya WTC tetapi beberapa bulan yang lalu sudah terlihat, tak aneh pada saat itu super star Michael Jackson, harus menjadi humas publik yang baik untuk kantor bursa tersebut.

Buruknya pemahaman eropa terkhusus Amerika dalam memandang Timur dapat terlihat dalam hal ini. Ditambah lagi media masa yang dikuasainya tidak kritis dalam mahami hal tersebut. Apakah pembuktian bahwa demokrasi dan kebebasan itu hanya komunitas masyarakat “kulit putih” yang di gambarkan lewat AS dan Eropa semata. Lalu bagaimana negara-negara diluar itu yang menyebabkan terpinggirkan dan termarjinalisasi negara-negara Timur-tengah. Tak aneh ketika ada perang dingin AS begitu dekat dengan Timur-tengah tetapi ketika musuh tersebut lenyap, yang dulu kawan bisa saja menjadi lawan.

Hegemoni timur dan barat sebenarnya mendapat momentum yang baik dalam konfrensi PBB anti Rasis di Durban, Afrika Selatan tanggal 8 September 2001 pada hari Sabtu tersebut. Tetapi anehnya mengapa AS dan Israel mengundurkan diri dalam puncak acara tersebut, banyak orang mengenal AS sebagai negara yang sangat mendukung Hak asasi manusia, tetapi mengapa mereka “work out” dalam konfrensi Rasisme se-dunia ini.

Dalam konfrensi tersebut sebenarnya adalah mementum untuk melakukan rekonsiliasi antara timur dan barat. Acara tersebut seakan hilang ditelan angin digantikan oleh “perang propaganda barat” lewat media masa dalam kasus teror yang di alami pemerintahan AS sekarang ini. Dalam konfrensi tersebut seharusnya AS dapat melihat keinginan mayorits rakyat timur tengah terhadap berkepanjangannya kemelut di Palestina.

Tesis Huntington sebenarnya bisa saja tidak terbukti jika sebagai “paman” AS dapat melakukan perbaikan dalam cara pandang barat memandang negara-negara berkembang yang di dominasi non kolit putih tersebut di timur.

Pernyataan Konfresi Rasis adalah pengakuan atas kemerdekaan rakyat Palestina yang secara politik menohok Israel. Dan juga pengangkatan derajat kulit hitam di pandang perlu untuk mendinamisator kehidupan dunia kedepan yang lebih beradab. Cara-cara perbudakan dan pola pikir yang mengakomodir perbedaan warna kulit dalam bentuk perbudakan sudah selayaknya hilang. Disini AS dan Israel seakan mendapat kartu mati. Tetapi kongres bisa saja selesai. Dunia bisa saja berubah. Dan eropa bisa saja mendukung secara politik konfrensi tersebut yang menghasilkan resolusi atas kemedekaan Palestina dan perbudakan di Afrika. Eropa yang sekarang lebih didukung oleh kalangan Sosial Demokrat mendukung dengan suara bulat.

Tetapi AS harus perlu musuh, itulah makna perbedan atau demokrasi dan kebebasan yang dengan ini tetap dipertahankan lewat pola politik ekonomi liberal pendahulu mereka yang di motori Reagen (AS), Thatcher (Inggris) dan Nakasone (Jepang) pada awal 1990, yang berimbas pada krisis ekonomi dunia sekarang ini.

Banyak orang berfikir jika saja gedung PBB tidak berada di AS mungkin resolusi dewan keamanan untuk menyerang negara-negara yang “terbukti” menyembunyikan kelompok teror harus di invasi. Apa salah sebuah negara dari sebuah “oknum teroris” yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan teroris Internasional tersebut. Pemerintah dan media sudah memberikan vonis bahwa Afganistan adalah negara yang wajib diatisipasi dan “diperangi.”

Hal serupa yang dulu pernah kita dengar tentang Irak dalam kasus perang Teluknya. Puluhan pertanyaan berkecamuk akan ketakutan munculnya konflik terbuka di dunia. Pertanyaannya bagaimana intelijen AS bekerja? Atau hanya sebegitu saja kerja Intelijen AS yang terkenal “cerdas”.

Pemerintah AS baru-baru ini juga berupaya menarik kembali buku tentang bukti keterlibatan AS terhadap penumbangan presiden Sukarno pada tahun 1965 tersebut. Yang satu dari dua volume sudah di publikasikan oleh Arsip Keamanan nasional AS dan dapat di lihat di situs web http://www.nsarchive.org.
Kemerdekaan dan pemerataan ekonomi adalah jawaban.
Banyak orang dan saya pribadi mengutuk tindakan teroris terhadap serangkaian tindakan teror yang terjadi di AS. Tetapi kita yang sekarang ini juga merasakan serangkaian bentuk teror di dalam negeri seharusnya lebih dewasa melihatnya. Terorisme Internasional perlu di antisipasi lewat bentuk-bentuk kerjasama global, tetapi tidak bisa di lenyapkan. Banyak dugaan bahwa terorisme banyak memakai strategi yang berbeda-beda dan lintas idiologi. Banyak dugaan teror adalah gerakan yang ditujukan untuk menyampaikan pesan. Tetapi kita tidak mendapat pesan dari tindakan teror yang terjadi dalam serangkaian penghujaman 4 pesawat komersil milik AS tersebut, apalagi yang bertanggung jawab terhadap serangkaian serangan tersebut.

Apakah gerakan teror itu adalah gerakan yang di tujukan untuk memberikan pesan kedunia. Jika ia maka seharusnya kita tidak perlu beramai-ramai memusuhi gerakan tersebut. Selayaknya kita mengasihaninya. Mengapa kita memusuhi gerakan dari sekelompok orang yang putus asa. Dan satu-satunya jawaban ini adalah dialog. Indonesia pernah punya pengalaman tentang ini terhadap pemberotakan milisi Islam Moro di Filipina. Atau contoh lainnya seperti apa yang dilakukan Perdana Menteri Inggris Tony Blair terhadap milisi Tentara Republik Irlandia (IRA) di Irlandia Utara.

Jika penyerangan tersebut bukan pesan teror apalagi ini? Apakah ini hanya semacam tiori domino yang dikenal dengan sebutan McCarthyisme, dimana membawa AS terlibat pada perang Vietnam. Teror dibalas dengan teror. Konsep domino ini seringkali di curigai banyak dipakai dalam beberapa kasus. Tentara yang pernah di latih oleh militer AS tak aneh terhadap tiori menjadi musuh tersebut. Apa yang terjadi misalnya di Filipina antara pemerintah Filipina dengan Front Pembebasan Bangsa Moro (MNLF), Front Pembebasan Islam Moro (MILF), dan pemerintah Filipina di Cyber jaya (Malaysia) yang kemudian di rusak dengan serangkaian Pembantaian dan penyanderaan yang dilakukan Gerilyawan Abu Sayyaf yang kemudian terbukti bekerjasama dengan “oknum” militer Filipina. Adalah salah satu bukti dari praktek tiori domino.

Banyak bukti dan strategi domino dipakai untuk kepentingan politik dan ekonomi suatu negara. Apa yang terjadi di Amerika bisa saja seperti itu, oleh sebab itu harus dibuktikan lewat pembuktian yang adil. Sikap Pemerintahan Afganistan atas hukum dan praduga tak bersalah dalam menunjukan keterlibatan Osama bin Laden, bukan merupakan sikap melindungi. Oleh sebab itu selayaknya AS mempublikasikan penyelidikannya dan tuduhannya kepada masyarakat dunia, sebelum melakukan infasi ke Afganistan dimana Osama bersembunyi.

Banyak bentuk-bentuk terorisme di dunia ini. Dan banyak juga yang melibatkan pemerintahan yang berkuasa. Beberapa data Agen-agen CIA juga bekerjasama dengan beberapa para teroris di dunia termasuk berhubungan baik dengan Osama bin Laden. Kita tahu George Bush juga punya masalah politik dan ekonomi yang rumit. Kenaikannya kepuncak kepresidenan juga kurang mulus dan harus melakukan konsesi dan “pembersihan” terhadap partai demokrat yang masih ada di pemerintahannya.

Kelompok bunuh diri juga bukan hanya komoditi teroris di Timur tengah, para pemberontak Macam Tamil Eelam (LTTE) banyak menghiasi surat kabar kita dengan serangkaian serangan bom bunuh diri. Malah pada tanggal 24 Juli 2001 turut menghancurkan bandara udara Internasional Sri Langka yang di jaga ketat oleh pangkalan angkatan Udara militer yang ada di sebelahnya, 13 pesawat terbang hancur. (kompas, 25 Juli 2001).

Atau kelompok yang lebih ektrim di eropa seperti kelompok 17 Novermber yang bermukim di Yunani. Mengincar kedutaan besar Amerika dan Inggris. Tetapi dari berbagai macam konsep terorisme. Banyak pula dugaan teorisme dipakai tunggangan untuk kepentingan dari kelompok-kelompok di luarnya. Sulit misalnya kita menghubungkan beberapa kali teror bom yang terjadi di Indonesia dan hubungannya dengan anak mantan president Suharto yaitu Tommy yang sampai sekarang belum ketemu batang hidungnya. Dugaan terakhir kembali mengarah pada kelompok-kelompok fundamentalis Timur-tengah terutama Afganistan.

Seperti yang dikemukakan. Deputi Perdana Menteri Abdullah Ahmad Badawi tentang dugaan oposisi pemerintah (partai-partai Islam Se-Malaysia) PAS termasuk putra pemimpin spritual partai tersebut yaitu Nik Adli Abdul Azis Nik Mat yang di tuduh anggota dari Kumpulan Mujahidin Malaysia (KMM). KMM inilah yang kemudian diduga memasok persenjataan dan pemberontakan di Ambon. Dan terakhir diduga melakukan peledakan di Pertokoan Atrium di pertokoan Senen, Jakarta baru-baru ini.

Kalau kita membaca serangkaian gerakan Teror yang dibawa memang membuat bulu kuduk kita berdiri. Tetapi sebagai manusia yang punya hak asasi manusia tidak selayaknya mereka itu kita musuhi. Hanya dengan dialog kita akan dapat menemukan titik terang permasalah yang di inginkan para Teroris tersebut. Yang bisa saja ada dalam kehidupan sosial kita atau partai politik seperti yang ada di Malaysia, tak mustahil bisa saja berlindung di balik partai politik di Indonesia. Kemudian pertanyaannya dialog semacam apa?

Dialog yang dilakukan secara ekonomi dan politik. Secara politik peran serta rakyat timur-tengah sudah selayaknya tidak termarjinalkan.

Tetapi mensikapi strategi global dari kondisi perekonomian dunia bukan tidak mungkin gerakan Tororisme menjadi subur. Suburnya terorisme bukan hanya dikarenakan kondisi mereka yang terbelakang dan tidak bermoral seperti yang banyak dituduhkan penduduk AS. Kita tidak akan bisa menyelesaikan pesan-pesan dari gerakan teror ini. Tetapi mengapa Teror itu bisa ada?

Globalisasi ekonomi menciptakan sebagian kecil orang kaya, dan sebagian besar kelompok-kelompok yang termarjinalkan, miskin secara ekonomi dan politik baik di Timur-Tengah maupun di Asia. Maka masalah krisis dunialah yang seharusnya menjadi poin para pemimpin didunia saat ini. Jika kita tidak memandang ekonomi dan politik dari kacamata rakyat Asia dan Afrika maka makna kebebasan dan demokrasi hanya milik bangsa AS dan Eropa semata.
Dan pesan ini kita sampaikan pula teruntuk pemimpin bangsa kita yang akan bertemu dengan presiden Bush.

Jika Megawati datang ke Washington hanya untuk meng-amini pendapat Bush untuk memerangi semua yang “diduga” tergabung dalam teroris Internasional membuktikan pembenaran tiori gramsci, misalnya jika kedatangan Mega hanya untuk meminta bantuan militer untuk meredam keinginan sebagaian rakyat Aceh yang di wakili oleh GAM —yang pemimpinnya berdomisili di Swiss— demi kepentingan perekonomian Amerika di Aceh, percuma.

Apa yang di kemukankannya di depan majelis di MPR/DPR baru-baru ini bahwa dialog harus dikedepankan dalam menghadapi gerakan fundamentalis tersebut menjadi omong kosong belaka. Semoga dugaan saya ini salah.

Pesan lainnya seharusnya yang perlu di sampaikan adalah. Bahwa peran perekonomian global telah membuktikan kegagalannya. Terbukti negara-negara di timur tengah, Afrika dan Asia menghasilkan jumlah kemiskinan yang rentan terhadap bentuk-bentuk terorisme dan pemberontakan. Marjinalisasi di benua Asia dan Afrika sudah seharusnya dicarikan jalan keluar dari kemelut krisis dunia ini.

Belajar dari serangkaian bentuk otoritarian fasisme Jerman dan Italia pada perang dunia kedua membuktikan bahwa kemelut ekonomi dapat saja menciptakan orang-orang yang tidak lagi memakai rasio. Krisis ekonomi yang menimpa Jerman menciptakan pemimpin otoriter dan rasis terhadap penduduk Yahudi. Yang kemudian sekarang ini mengemuka dalam perdebatan diskusi global yang menyatakan jika saja Jerman tidak menyerah terhadap sekutu apakah Jerman akan di bom Atom oleh AS seperti terhadap Jepang pada perang dunia kedua?

Jawaban tentang musuh dunia yang diciptakan AS terhadap Terorisme sebenarnya adalah kemiskinan itu sendiri. Apa yang terjadi di Indonesia, Filipina, dan mungkin Malaysia, Banglades, mungkin juga Jepang. Dan beberapa kelompok fundamentalis di Afganistan, Hamas di Palestina dan puluhan oraganisasi teror yang hilang silih berganti bukanlah busuh utama rakyat di dunia ini. Musuh utama kita adalah sistem perekonomian yang tertata dengan baik serta terdistribusi dengan baik sehingga, kemakmuran dapat dirasakan dan kecemburuan bisa sedikit demi sedikit hilang secara budaya baik dalam kepala rakyat kulit putih di barat maupun kulit berwarna di Timur.

Akhirnya Rambo bukan hanya berjasa di Afganistan tetapi dia juga pernah memberotak pada pemerintahannya sendiri akibat dampak pemerintah AS terhadap rakyat Vietnam. Dan kemarahan seorang mantan militer ditujukan dengan melakukan tindakan teror dan peledakan di kota kelahirannya sendiri Amerika Serikat (Rambo II). Tetapi sayangnya itu hanya di film, entah dalam kehidupan sebenarnya. Yang pasti tiori domino merupakan cara yang efektif. Apakah setelah perang dingin para agen CIA menjadi frustasi, dan mencari kerjaan baru meneror. Entahlah. (end)

Tautan:

Makasih yang udah mendokumentasikan.

lluuuccu.student.umm.ac.id/2010/02/04/filsafat/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s